Kata Ganindra Bimo soal banyaknya pemain diaspora hijrah ke liga Indonesia termasuk Persib.
"Jadi menurut gua nih ya, akar masalahnya bukan ada di Persib, tapi akar masalahnya ada di cara kita melihat hierarki sepak bola. Kita nih masih nganggap perkembangan pemain tuh linear. Eropa selalu di atas, Asia selalu di bawah. Kalau pindah dari Eropa ke Indonesia, berarti turun kelas drastis. Padahal nih ya, dalam football economics dan player development, hierarki itu jauh lebih dinamis.
Yang dicari pemain profesional bukan selalu liga dengan reputasi paling tinggi, paling baik, paling hebat, paling besar. Yang dicari adalah competitive advantage, tempat di mana dia bisa memaksimalkan kualitasnya. Kalau sebuah klub menawarkan menit bermain yang lebih konsisten, sistem permainan yang lebih cocok, targetnya juara, kesempatan tampil di kompetisi Asia yang lebih besar, dan eksposur yang gede terhadap Timnas, itu adalah aset olahraga yang paling nyata. Itu bukan soal sekadar gaji atau nama liga.
Makanya banyak klub modern yang sekarang enggak lagi merekrut pemain-pemain tuh hanya berdasarkan CV, tapi berdasarkan project fit. Pertanyaannya jadi berubah, bukan lagi, 'Kenapa dia ninggalin Eropa?', tapi, 'Kenapa klub sebesar Persib ngerasa pemain itu layak jadi bagian dari proyek mereka?'. Karena transfer selalu terjadi dua arah kan? Ada pemain yang milih klub, ada klub yang memilih pemain.
Dan kalau semakin banyak pemain diaspora mulai datang ke Indonesia, mungkin yang berubah bukan mentalitas pemainnya, mungkin justru value sepak bola Indonesia yang mulai meningkat. Bagus dong buat kita, iya kan? Jadi menurut gua, berhentilah menilai transfer hanya dari arah perpindahannya, nilailah dari outcome-nya.
Karena dalam sepak bola profesional, keputusan transfer enggak pernah divalidasi saat tanda tangan kontrak. Keputusan itu baru divalidasi ketika performanya terlihat di atas lapangan, gitu. Menurut gua, bukan pundit, bukan pakar sepak bola, gua mah penonton sepak bola biasa."